DIARY-KU TERSENYUM
Senyum itu dan aku
hanya menatap, terdiam dan betah serasa isyaratkan dan mengartikan bahasa di
jiwa, mengertikan cinta yang ingin menjadi keharusan. Keharusan selalu berada
di setiap detik berdenting, temani dan menemani karena senyumnya yang membuatku
jatuh cinta.
Aku yang tak mampu dan hanya menggumam, menemui dan
menemaninya dalam hayal utuk bersama menari-nari di taman surga impian. Aku
yang tak mampu dan tak punya kuat alasan mengugkapkan, hanya cinta yang terasakan
bersamanya dalam pelukan dalam hayalan. Aku hanya mampu menuliskan jejak hayal
dalam diary untuk tinggalkan cerita perjalanan hayal.
Diary-ku tersenyum,
begitulah gambaran tetantang cinta, tentang aku yang selalu merasa bersama
karena dia adalah aku dan dia adalah hayalku, dimana rindu menjadi satu disana
aku bisa menulis dan mengisahkan dalam diary yang masih tersisa
lembarannya. Begitulah cinta, tak harus terungkapkan tapi dirasakan, tak harus
nyata tapi hayalan. Begitulah jari jemari menghitung dan tak lagi membiji
karena lebih dari satu adalah sebelas hari aku menjalani cinta dengan hayal yang
sampai saat ini masih betah.
Gila, begitulah Danu temaku mengatakannya. Tapi inilah
cinta, inilah perasaan yang mampu bertahan samapai saat ini. Menjadikan sekolah
tempat terindah, tempat mencuri-curi senyum higga tak ada kata bosan menatap
dan memandangnya. Itulah aku, seolah tanpa hirau akan pelajaran, seolah menjadi
keharusan dan akan tetapi harus bisa menyamarkan karena Putri adalah teman satu
kelas yang baru satu bulan di pindah ke SMA ini.
“Adit, mana tugas puisimu? Yang lain sudah
mengumpulkan kamunya malah enak-enakan bengong, menghayalkan apa?” tanya Ibu
Sri yang tanpa sadar sudah berdiri di sebelahku. Sontan saja aku menyadarkan
diri dari hayal dan dengan perasaan sedikit malau karena jadi perhatian
anak-anak aku pun membuka tas, mengambil lalu memberikan lembaran tugas.
Setelah itu Ibu Sri menuju bangkunya Putri.
“Putri, tugasmu
mana?” tanya Ibu Sri.
“Yang aku ketinggalan di rumah Bu,” jawabnya.
“Alasan saja. Ya sudah, kamu sekarang baca pusi ini di
depan kelas,” suruh Ibu Sri dengan memeberikan tugasku.
“Bu, apa boleh aku baca puisi yang lain” tanyanya, Ibu
Sri memperbolehkan dan Putri pun maju dengan membawa buku warna merah.
“Itu kan diary punyaku?” pikirku. ”Putri, itu,”
tegurku.
“Adit,
diam kamu. Ayo Putri baca di depan!” pinta Ibu Sri.
“Lembut tutur dari paras wajah
seraya bernyanyi, mata indah untuk cahayanya mengisi relung hati, seperti itu adalah
paras wajah yang merajai. Harum begitu merekah adalah nafasmu yang tersaji, sejuk
terasa begitu kenginan untuk miliki, dan sangat pantas aku terlena kepadamu
pemilik hati. Setiap deditik denting mendentingkan waktu, setiap itu dalam rintihan
hati selalu memanggilmu. Seperti
indah takkan terasa tanpa kehadiranmu, seperti itu di sini adalah aku tetap
menunggu, hingga
itu adalah jawaban dari rasa di hatimu. Aku tetap bertahan yakinkan
rasamu untuk merindu, bila
saatnya adalah cinta indah temukan dihatimu.
Selesai”
“Bagus,
bagus. Mendengar puisi itu Ibu
jadi ingin jatuh cinta lagi,” kata Ibu Sri sambil bertepuk tangan dan anak-anak yang
lainnya juga ikut bertepuk tangan.
“Makasi bu,” jawabnya dan Puti pun duduk kembali.
Aku hanya bisa tertunduk, malu begitulah takkalah
semua curahan hati yang tertuang dalam diary
ada yang mengetahuinya. Belpun berbunyi, aku bergegas keluar kelas. “Adit, diary-mu,” panggil Putri
dan aku pun dengan tersipu malu mengambilnya. “Terima kasih. Tapi kenapa bisa
ada di kamu?” tanyaku.
“Maafkan aku telah membacanya. Oya, tadi malam Danu
memebikannya padaku,” jawabnya.
“Maafkan
aku juga,
kalau dengan diary-ku menjadi marahmu,”
kataku.
“Adit, mengapa kamu harus
minta maaf lagian tak ada yang salah kok. Tapi aku heran, kenapa semua inginmu
hanya tertulis dan dalam hayal, mengapa tak diungkapkan?” tanyanya.
“Entahlah, tapi semua yang
terjadi hanya untuk dirasakan dan dimengerti, karena jiwaku berkata bahawasanya
untuk saat ini cinta tidah harus diungkapkan dan cukup satu hati yang
merasakan,” tegasku.
“Kamu salah, cinta itu akan
mencapai bahagia bila dua hati menyatu dan terikat dalam satu ikatan,”
bantahnya.
“Hem, hem, .... Ada yang
pacaran,” kata Danu yang masuk ke kelas.
“Sapa yang pacaran,” kata Putri
“Danu, kenapa kamu berikan diary-ku pada Putri?” tanyaku.
“Sudahlah, jangan munafik
dengan perasaanmu, aku sebagai sahabatmu hanya ingin membantumu. Kalau kamu
memang cinta, nunggu apa lagi, nunggu diary-mu habis ditulis? Nyatakan, tembak!” paksa Danu.
“Apa malu karena ada aku? Ya suadah aku keluar,” katanya dan setelah itu dia
keluar.
Aku yang merasa kedokku sudah
terbongkar memberanikan diri lama manatapnya dan dia pun berbalas tatapan. “Putri,”
sapaku dan hampir bersamaan Putri juga menyapaku, “Adit.”
“Putri, aku bertemu
sang Hawa dalam pandangan, senyumnya paksa aku untuk menjadi Adam. Dia
memaksakan untuk ada cinta dan aku mencintainya. Putri, kamulah Hawa yang ku
temui dan senyummu isyaratkan aku untuk mencintaimu. Putri, aku mencintaimu.” rayuku
“Apa, mencintaiku. Apa aku tak
salah dengar? Bukannya cintamu hanya dalam diary dan
bukkannya kata Danu kamu akan mengungkapkan jika halaman diary-mu habis ditulis?” tanyanya.
“Memang aku sudah mendapatkan
cinta, tapi bukannya katamu cinta akan mendapatkan bahagia bila dua hati
menyatu dan terikat dalam satu ikatan. Salahkah aku bila hayalanku menjadi
kenyataan dan kamu yang menamatkan diary-nya.
“Tapi.”
“Putri, diary-ku tersenyum. Apakah kamu tak ingin mengisih
hari-hariku dengan senyummu dan apakah kamu tak ingin memijamkan senyummu dan
bahkan merelakan menjadi senyumku?” pintaku dan setelah itu bel berbunyi, semua
anak-naka masuk kelas, Putri pun kembali ke tampat duduknya. Selama pelajaran
berlangsung aku dan Putri sesekali menatap dan mengumbar senyum, seolah
mengisyaratkan sesuatu yang tak biasa dan seolah membiaskan pelajaran hingga
tak terasa bel berbunyi menandakan waktunya pulang.
“Adit, tunggu,” panggilnya
melihat aku yang bergegas keluar kelas. Dia mengambil diary yang aku pegang, membuka lembaran-lembaran yang kosong dan menuliskan
sesuatu. “Baca ini!”
“I love you too,” begitu
tulisan di setiap lembaran kosong dalam diary. “Benarkah?” tanyaku.
“Peluklah aku,” katanya
dengan mentapku dengan senyummnya dan aku pun memeluknya. “Aku juga
mengharapakan keadaan seperti ini karena aku juga mencintaimu sejak kita sering
pulang bersama.”
Saat itu pun terdengar
tepuk tangan, seketika itu Danu membawa anak-anak masuk kelas lagi dan semua
mengucapkan selamat, aku dan Putri hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terima
kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar