JINGGA TERAKHIR
Langkah menyusuri jalan dalam hina sepi tak berujung hingga jejak pun engan menunjuk arah. Debur ombak enggan mengungkapkan
sebaris kalimat pasti sekedar teduhkan jiwa. Seperti telunjuk, menghitung asah
yang tak mengasah maksud hanya merajam ingin seperti awan pekat menyelimuti
langit yang akan jingga.
Adalah tatapan kosong sesekali menatapi perahu dan geliat orang hilir mudik
di pelabuhan dan aku menantikan seperti seharusnya sore ini adalah paras wajah
melukiskan jingga untuk mengarak matahari.Terkadang, tak hirau panggil menyapa dan hanya larut
dalam pandangan kereta awan beriring bergemuruh membentang menggaris langit
pelabuhan.
“Tunggu di pelabuhan
samapai tiga hari jingga dan aku akan menanyakan cinta dan ketulusannya,”
Ucapnya pesan terakhir di fb (facebook).
Kata
itulah yang menjadikan kekuatan untuk tetap berdiri sampai saat ini
dan hari ini adalah terakhir dimana hari pengadilan untuk menghadapi kenyataan
yang harus dijalani. Aku hanya bisa berharap dia datang membawa senyum seperti
sapa manja teduhkan jiwa bersama memandangi jingga menutup hari.
Matahari seolah
lelah berarak dan tak menampakkan sinar, lebih memilih membelakangi awan pekat
untuk memberikan kesempatan hujan mengguyur hingga tak akan terjumpai jingga di
hari ini.
Suasana itulah
membuat aku memilih berteduh dalam warung kosong demi menghindar dari derasnya
hujan yang seakan membuyarkan harapan seperti seharusnya terjadi seindah yang
teralami dan terjalin di fb.
Pandangan hanya bisa
menatap hujan menari, sesaat itu perahu mulai menampakkan tiang seolah enggan
menyaksikan karena penumpangnya tak ingin terlarut dalam tarian hujan dimana
mereka takut gemuruh membuyarkan semua apa yang menjadi tujuannya. Bising suara
mesin perahu mulai mengusik menyadarkan bahwasanya aku harus menghadapi
kenyataan waktu hanya tinggal sesaat dan malam mulai bersiap menyambut mentari
untuk menina bobokkanya.
Sandarpun perahu,
sesaat itu keramaian penumpang untuk secepat mungkin meninggalkan perahu dan
menuju mobil yang telah berjejer menunggu penumpang menaikinya. secepat itu aku
pandangi penumpang memungkinkan untuk melihat wajah seperti foto yang ada di fb.
“Permisi numpang
berteduh,” Ucap dua orang penumpang.
Dua
orang penumpang dengan memakai jaket demi sesaat menghindar dari hujan dan
duduk satu warung denganku. sesaat itupun kami terjalin pembicaraan menambah
keakraban.
Tak
lama kemudia salah satu dari mereka ada yang menjemput dan tinggallah aku dan
seorang wanita yang masih memakai jaket dan penutup kepalanya yang seolah tak
ingin sedikitpun badannya tersetuh atau disentuh hujan.
“Ma’af, anda sendiri nungguin siapa?“ tanyaku.
“Nunggui seseorang yang aku janjikan untuk bertemu di sini, Mas sendiri?”
Sahutnya.
“Aku menunggu seseorang yang memberi pesan bahawasanya di dermaga ini dia
akan datang dalam tiga kali jingga dan ini adalah hari terakhir aku
menunggunya” jawabku.
Sesaat itu dia Menatapku seolah ada sesuatu hal yang kelihatan aneh
denganku dan seolah ingin tahu tentang kisah hingga aku bisa beda di tempat
ini. Dan
dari itu kita saling berbincang untuk membiarkan tanpa hirau hujan yang turun.
Dari perbincangan itu aku bercerita banyak mengapa tetap bertahan disini
setelah dua hari sebelumnya tak menemui yang ditunggu.
“Aneh banget ya Mas
ceritanya, tapi mengharukan juga untuk menikmatinya” Ucapnya sambil tersenyum.
“Maksudmu,” Tanyaku.
Sesaat itu terdengar
suara azan yang menggema dan menyadarkan bahwasanya tanpa terasa jingga telah
berakhir, semua yang menjadi pengharapan sirna dan ini hanya cinta tapa temu
tanpa sentu yang telah terjadi.
“Ma’af, saya duluan
pulang karena jingga dan cinta kali ini tak memihak padaku.”
“Apakah Mas
menyesali yang telah terjadi,” tanyanya.
“Entahlah, tapi aku
tak ingin menyesali yang telah terjadi dan aku hanya ingin cepat pulang untuk
menanyakan cinta dan kesungguhanya” jawabku.
Dari itu aku pun pulang
dan cepat menuju kamarku utuk mengambil lapto membuka fb.
“Jingga itu takkan
perna bohong dan jingga itu takkan berpura, walupun mendung menutupi dan hujan
menghalangi, dia itu tetap ada mengarak mentari menyambutkan malam pada
bintang-bintang. Kembalilah karena cinta dan nyata itu ada sebelum kau
pertanyakan. di sini jingga itu telah mempertemukan aku denganmu. aku menunggu
di tempatmu berteduh dan gadis yang kau jumpai itu adalah aku,” pesanya dalam
fb.
Sesaat itupun aku
beranjak dan kembali ke pelabuhan untuk menemuinya menjadikan malam ini untuk
menunggui bintang menjadi saksinya.
“Aku ini dimana,
apakah ini hanya mimpi dan kamu?” tanyaku pada gadis yang tersenyum melihat kau
tersadar.
“Aku jingga itu dan
cintamu, kamu tadi jatuh dari sepeda motor di pelabuhan sebelum menemuiku dan
ini dirumah sakit, dan tenangglah, aku akan menemani malammu,” sahutnya.
Aku dan dia hanya
bisa bersyukur atas apa yang telah terjadi hingga cinta itu benar adanya dan
untuk kita merasakannya dalam nyatanya dunia ini. Kita melawati malam dengan
membuka jendela untuk beintang mengintip menjadi siksa bahwa cinta itu adil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar