CINTAKU DI PANTAI BADUR
Terbukanya
mata dan terbangun dari mimpi-mimpi bertabur kenangan. Anganku berlari dan
mulai teringat, mengingat semua bahawa ini nyata. Terbentang jalan penuh sepih
yang akan tertempuh tanpa dirinya menemani. Mencoba untuk mengerti, mungkin ini
adalah cerita sepintas dan meyakinkan bahawa cinta itu masih ada.
Cinta kuatkan aku tak terpuruk, walau tersadari tanpa kehadirannya menjadikan lelah. Tak untuk dikira seberapa besar rindu yang
mengalah, tanpanya tertinggal langkah hingga jatuhnya air mata adalah sedihku. Hati tak bisa
bersembunyi dari sepi bila hanya ada bui menemani, mencoba melawan ragu bila
rapu menguat di setiap sepi tanpa tepi dan mencoba tetap bertahan walau emosi
menegur rindu.
“Tuhan,
jagalah dirinya karena aku cemburu. Aku tak mampu berpura di sini selalu merasa memiliki,menyentuhnya adalah keindahan, bersamanya adalah kebahagian. Tuhan, aku
cemburu dan aku merasakan rindu,” kataku sambil berbaring dan setelah itu
bangkit, mengambil dan memandangi fotonya. “Kemana kau pergi cinta?
Jemariku menghitung sudah sepuluh hari tanpa sapamu. Di sini tak mampuku
berpura menipu rasa bila harus sendri menutup hari. Aku tak mampu menulis
cerita tanpamu memberi warna, karena dirimulah warna hidupku dan takkan merasa
indah bila tanpa sentuhmu.”
Aku
yang tak mau larut dalam sedih, keluar dari kamar mengambil motor untuk
menyusuri jalan dan mengarahka motor menuju Patai Badur (Kecamatan
Batang-Batang Kabupaten Sumenep). Sesampainya, aku memilih duduk di bawah
pohon cemarah udang beralaskan pasir dengan pemandangan laut lepas dan ombak
yang mendebur berkejaran.
Sejauh
memandang adalah keindahan, pantai berpagar cemarah udang dan sungai kecil
melintasi pasir. Aku menyebut ini adalah Pantai kenangan, karena disini pertama
kali aku dengan Ratna berkenalan dan memuli cinta, sehingga bayangannya terus
membayangi pandanganku dan aku hanya bisa membiarkan bayangannya yang berkuasa.
Tersiksa, tapi inilah cinta yang tak mampu mengelak dari kenangan.
Setelah
puas memandang, aku berjalan menuju sungai kecil, duduk dan menyentuh jerni air
tawar yang mengalir. “Tuhan, aku merasa iri. Dengan kuasaMu Engkau ciptakan
Pantai Badur ini dengan tertata indah. Tapi, mengapa Engkau tak ciptakah
keindahan dari cinta yang aku rasakan dengannya. Tuhan, salahkah aku bila
berucap, ini tak adail. Mengapa Engkau tak satukan cintaku sementara Engkau
satukan air tawar dan air laut?”
Membiarkan
air mata terjatuh, menundukkan kepala dan memejamkan mata dengan menutup wajah
ini dengan kedua tangan.”Tak adi, ini tak adil, tak adil,” teriakku seolah tak
acuh pada orang yang berlalu lalang dan membiarkan butiran pasir berterbangan
menyetuh badan seiring angin menghempaskannya.
Panas
yang terasa menandakan matahari mulai jauh meninggalkan timur, akupun putuskan
untuk pulang. Sesampainya di parkiran aku melihat Pak Budi bapak Ratna di dalam
mobil, aku menghampirinya. “Assalamu’alaikum. Ada dimana Ratna Pak?” tanyaku.
“Waalaikumsalam.
Itu Ratna dan Rudi,” katanya sambil menunjuk.
Aku tercengang
takkalah melihat ratna menaiki kursi roda dan di dorong supirnya. “Apa yang
terjadi dengan Ratna?” tanyaku.
“Sepuluh
hari yang lalu dia kecelakaan dengan motornya saat pulang kuliah, kedua kakinya
patah dan yang sebelah kiri diamputasi. Oya, maafkan Bapak tidak memberitahukan
kejadian ini karena Ratna yang meminta untuk merahasikan dari kamu,” jawabnya.
Terdiam
sesaat dan tak percaya akan kenyataan, aku menatap pasrah dan menghampiri
Ratna. Aku menepuk bahu Pak Rudi dan sesegerah menutup mulutnya dengan jariku
mengisyaratkan untuk tak memberitahukan aku yang datang dan aku menggantikannya
mendorong kursi rodanya. “Ke sana Pak,” kata Ratna sambil menunjuk, meminta untuk di
dorong mendekati ombak dan akupun mendorongnya.
“Pak
Rudi, alasanku diantararkan ke tempai ini karena ini adalah Pantai Kenangan.
Aku dan Jaka dipertemukan di sini, aku memulai cinta dan rindu juga di sini.
Tapi, untuk sekarang aku hanya mampu berharap dengan sepuluh hari tak
menghubunginya dia sudah bisa membenci dan melupakanku karena aku tak pantas
lagi bersanding dengannya,” katanya.
“Kamu
salah,” kataku dan sesaat itu dia mengenali suaraku, menoleh dan terpaku dia
menatap, seakan tak percaya aku di belakang yang mendorong kursi rodahnya. “Kamu pasti
merasakan rindu hingga meminta diatarkan ke sini.”
“Kamu,” terdiam sesaat “Mana Pak Rudi?” tanyanya.
Aku memilih berlutut dihadapannya dan memegang tangannya,
“Sudahlah, aku sudah tahu semunya. Cobalah mengerti dan tak harus kau bohongi
perasaanmu. Aku tahu kamu masih mencintaiku dan akupun demikian. Jangan
tinggalkan aku lagi karena aku mencintaimu sepenuh hati.”
“Tapi, aku.”
“Mengertilah, cinta ini tak bersyarat dan hanya dirimu yang
selalu difikiranku dan tak mungkin tergantikan karena takkan ada dan tak perna
ada, hanya dirimu satu tapa dua untukku menduakannya. Cinta ini sudah terikat
dan takkan terlepas kecuali kehendak Tuhan dan keinginanku untuk menamatkan
cinta bersamamu,” tegasku meyakinkannya.
“Jaka, aku bukan yang duluh lagi, aku tak sempurna dan aku takkan
mampu mengikuti jejakmu,” katanya sambil menangis.
“Apa gunanya tangan dan kaki ini, aku akan merangkul dan
membawamu kemana kamu mau pergi, karena kamu adalah pembimbing di setiap
langkahku. Ratna, jiwa dan hati adalah untukmu dan jangan ragukan karena
kamulah tujuan hidupku,” rayuku sambil mengusap air matanya.
Senyum terlihat dari paras cantiknya menandakan raut bahagia.
“Aduh,” katanya, seakan terlupa keadaannya berusaha untuk berdiri. “Jangan
berdiri duluh, emangnya mau kemana?” tanyaku. “Aku ingin memelukmu,” akupun
memeluknya dengan perasaan bahagia.
Tepuk tangan terdengar dan kita segerah melapaskan pelukan. “Maaf
ganggu dulu. Ratna, kamu puas-puasin di Pantai Badur ini dengan Jaka, aku
pulang duluan dengan Rudi” kata bapak Ratna. “Oya, Jaka kunci motormu mana? nanti
kamu dan Ratna pulangnnya naik mobil, biar aku yang bawa motormu,” tambahnya
dan akupun memberikan kunci motor begitupun bapaknya memberikan kunci mobilnya.
Dengan perasaan bahagia kita melanjutkan menikmati keindahan
Pantai Badur dengan mendorong kursi rodahnya melewati menyusuri tepian ombak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar