HALALKU UNTUKMU KUPU-KUPU
Bunga mekar dengan mahkota indah memanjakan penikmatnya,
menabarkan wewangian dan membuat betah kupu-kupu. Begitulah kiranya cinta
dengan segalah kindahan, menebarkan butiran-butiran kabahagian bagi setiap
pecinta yang menyanjung cinta setulus hati.
Aku yang merasakan kebahagian dari cerita cinta yang
berbunga-bunga bila bersamanya. Di setiap embusan nafas adalah harum raganya
yang menghukumku dalam satu permintaan, bersamanya selamanya. Aku sadar
bahwasanya cinta ini harus dihalalkan dengan restu dan petuah untuk merestui
kebersamaan, siang ini memberanikan memabawa Ranum menemui bapak demi mendapat
restu.
“Ranum, tunggu sebentar,” kataku sambil mempersilahkan
duduk di ruang tamu, akupun masuk kekamar bapak dan mengajaknya keluar.“Pak,
kenalkan ini Ranum.”
“Aku Ranum Pak,” ucap Ranum sambil bersalaman lalu duduk kembali.
Bapak yang enggan duduk menatap Ranum seolah ada sesuatu yang
diketahui. “Dika, sekarang juga kamu putuskan dia karena aku tak sudi punya
pacar seperti dia,” pintanya.
Aku merasa heran dan menatap keduanya. Bapak yang menunjukkan
raut muka marah dan Ranum yang semulah mengumbar senyum, hanya bisa menundukkan
kepala. “Ada apa, apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku pada mereka dan Ranum
hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dika, apa kamu tak menyadari siapa dia yang sebanrnya? Aku tahu
siapa dia, pokoknya aku tak setuju.” tandasnya.
“Bapak perna bilang, sekarang bukan lagi zamannya Siti
Nurbaya dan memebrikan kebebasan untukku menentukan dan memilih sendiri calon
istri. Tapi, sekarang malah sebaliknya, bapak mau merampas kebebasan yang bapak
berikan.”
“Seharusnya kamu mengerti, kebebasan yang bapak berikan
tidak untuk seperti ini. Kamu seharusnya meyadari betapa pentingnya nama baik
keluarga di mata masyarakat. Jika kamu jadi menikah dengan dia, maka
orang-orang akan memandang rendah martabat keluarga kita. Dia bukan cewek yang
baik.”
“Pak, dia itu cewek baik-baik,” bantahku.
“Dia kupu-kupu malam, Dia pelacur,”
tegasnya.
“Itu
dulu,” kataku.
“Tidak,
orang akan tetap melihat dia sebagai seorang pelacur” tegasnya, saat itu
tangannya melayangkan pukulan kemukaku dan sesaat suasana menjadi hening.
“Maaf,”
Ranum berdiri sambil mengusap air matanya. “Dika, benar apa yang dikatakan
bapakmu, aku memang tak pantas untuk bersanding dengan keluarga yang terhormat
ini. Oya Pak, Tuhan terlanjur menghukumku dalam kehinaan, tapi salahkah aku
bilah menjadi orang baik seperti bapak?” ucap ranum sedih, setelah itu dia
memilih untuk pergi. “Assalamu’alaiku,” lirih terdengar di antara
salam dan tangisnya.
“Ranum,
jangan pergi,” diapun berhenti dan aku menghampiri membujuknya. Seolah tanpa
hirau dan hanya air mata di selah tangisnya, dia memilih berlari
meninggalkanku.
“Dika, sudahlah, untuk apa kamu mengharap cinta dari orang
seperti dia,” teriak bapak.
“Pak,
kalau Bapak berada di posisiku, apa yang akan Bapak lakukan? Seorang cowok
takkan rela ceweknya dihina seperti ini,” kataku.
“Lupakanlah
dia, aku yakin kamu akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dan kamu akan
menadapatkan kesenangan yang lebih,” katanya.
“Pak, senang bukan berarti bahagia. Kesenangan dapat dibelih
dengan uang dan bapak berbicara seperti itu karena bapak punya banyak uang,
tapi kebahagian tak dapat dibeli kerana kebahagian adalah sesuatu yang
terasakan bila ada cinta setulus hati. Jadi, jangan paksa aku untuk
melupakanya.”
“Tapi, dia,” kata bapak, dan aku langsung memotong pembicaraanya.
“Bukannya kita dan semua orang itu sama di mata Tuhan, dan yang membedakannya
hayalah keimanan dan ketakwaannya. Bapak selalu bilang untuk bisa menghormati
dan membina hubungan baik kepada setiap orang. Tapi, malah bapak memberikan
contoh yang tidak baik, bapak menghina gadis yang belum tentu di mata Tuhan dia
terhina. Aku kecewa.”
“Dika, cinta telah membuatmu buta hingga kamu lupa aka pentinya
arti martabat keluarga di mata masyarakat. Apa kamu rela kelurga kita menjadi
pembicaraan orang?”
“Sudah, sudahlah Pak. Ranum tidak sejelek seperti apa yang bapak
bayangkan” kataku dengan emosi. Aku pun menendang kursi dan memilih untuk pergi
dan tak perdulikan panggilan Bapak karena yang terfikirkan adalah keadaan
Ranum. Aku pun ambil motor dan memacunya untuk segera sampai di rumah Ranum.
“Assalamu’alaikum. Ranum, Ranum …,” aku memanggil sambil berdiri
di depan pintunya, namu tak ada jawab, lalu aku ulangi lagi, pintupun terbuka
dan yang keluar adiknya. “Rian, kakakmu ada?”
“Kakakku tidak ada di rumah, waktu pulang sekolah dianya sudah
tidak ada. Abang tunggu saja di sini dan sambil
menunggu temanin Rian mengerjakan tugas sekolah.” Dengan perasaan khawatir akan
keadaan Ranum aku pun menemani Rian sambil menunggu Ranum pulang. Setelah lama
menunggu, ranum datang dan langsung masuk ke kamarnya seolah tak menghiraukanku
dan hanya tangisnya yang terdengar.
“Ranum,
Ranum,” aku memanggilnya dan berusaha membuka pintu, tapi pintunya terkunci.
“Dika, lebih baik kamu pulang, aku sadar siapa aku ini dan benar kata bapakmu,
aku hanya kupu-kupu malam.”
“Aku
sekarang di sini untukmu, kamu jangan hiraukan kata-kata bapak dan maafkan
dia,” rayuku agar dia membuka pintu. “Sudahlah, lupakan aku” sahutnya.
“Abang, biar aku yang buka pintunya. Aku punya kunci cadangan,” kata Rian.
“Rian,
kok bisa kamu buka pintunya,” tanya Ranum, dan Rian hanya menunjukkan kunci dan
setelah itu dia memilih pergi dan aku mendekati Ranum.
“Ranum,
mintahlah sumpah demi apapun karena jiwa dan raga ini berani bersumpah demi
apapun asalkan halalku bersamamu,” rayuku menyakinkan dengan memegang
tangannya. “Tapi, Bapakmu” sahutnya. “Cinta itu harus diperjuangkan, bahagia
itu harus digapai. Aku ingin bersamamu melawan semua rintangan demi satu
tujuan, halalku untukmu kupu-kupuku dan halalmu untukku dengan ikatan suci
pernikahan,” rayuku sambil mengusap air matanya dan Ranumpun mulai tersenyum,
setelah itu memelukku. “Aku halalkan diriku untukmu bila itu maumu,”
“Kak,”
kata Rian yang sudah berdiri di pintu yang terbuka . “Kamu lagi, ada apa?” kata
Ranum. “Pelukannya diteruskan nanti. Sekarang keluar dulu ada tamu, katanya
penting” jawab Rian sambil tersenyum melihat kita berpelukan.
Kita pun keluar. Betapa terkejut aku dan Ranum, karena yang
datang adalah Bapak. “Pak, ada apa? Belum puas Bapak menghina Ranum hingga
sampai ke sini,” sapa dan tanyaku.
“Dika, selamat untukmu,” katanya, aku hanya diam tak mengerti dan
bapak lalu pergi ke mobil mengambil sesuatu dan memberikannya kepadaku. “Apa maksud dari semua ini, kenapa diary ini ada di
bapak?” tanyaku. “Dika, kamu satu-satunya yang bapak miliki dan tak ingin
kehilanganmu. Aku tahu semua tentang cintamu daridiary-mu, dan bapak
lakukan hanya ingin tahu seberapa besar cinta kalian. Dika, aku yakin ibumu di
surga juga merasa senang melihat anaknya tumbuh menjadi lelaksi sejati yang
mampu mempertahankan cintanya. Ranum, maafkan bapak. Bapak halalkan anaku
untukmu bila kamu bersedia menikah dengannya.”
“Pak,
aku berjanji akan menjaga Dika dengan sekuat dan semampuku bila itu menjadi
halalku,” kata Ranum sambil tersenyum dan kitapun berpelukan mencurahkan
kebahagian. “Hem… Bapak jadi iri kalau begini. Ya sudah bapak dengan Rian saja,
Rian ayo kita jalan-jalan.”
“Kupu-kupuku jangan perna tinggalkan aku. Kupu-kupumu ingin
selalu bernafas bersama harum nafasmu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar