KUPU-KUPUKU AKU BUTUH KAMU
Matahari yang berarak dan pagi pun tersapa siang untuk
menggantinya, begitu pula embun akan pergi karena setia pada pagi. Setia,
begitulah seharusnya dalam menjalani cinta karena cinta saling membutuhkan.
Seperti kupu-kupu yang akan merasa butuh pada bunga untuk menyentuhnya.
Cinta adalah ungkapan rasa permintaan hati hingga semua akan
menjadi semu bila tanpa terjalani dengan setia. Seperti aku yang merasakan
cinta dari kupu-kupuku yang selalu menyentuh bunga hatiku. Seperti embun tanpa
syarat untuk membuat dedaunan cinta dan akulah yang haya butuh cinta dan tanpa
syarat untuk setia. Semua itu terjalani karena kita berkeyakinan, ada bahagia
yang menantinya.
Bahagia itu yang terasakan bila bersama, bersanding, dan
menyentuhnya hingga semua bagaikan penonton dan hanya kita pemilik dunia ini.
“Ranum, aku akan selalu menyebutmu keindahan bila inginku mengabdi pada nyata
dan perpegang teguh pada sumpah untuk tak putus asa karena kamu telah
mengajarkan aku merasakan cinta hingga bernafaspun sepertinya nafasmu yang kau
titipkan. Ranum, adalahmu keindahan dari kebahagian cinta untukku tertakdir dan
takkan berhenti sebelum tuhan mengatakan ini berakhir” rayuku.
“Dika, apapun yang terjadi denganku, adalahmu pelindungnya dan
bila itu rapu adalahmu disampingku. Cinta ini mengakar dan tak mungkin aku
merobohkannya sebelum kehendak Tuhan, karena sedih dan senang ingin terlalui
bersamamu. Dika, akulah kupu-kupumu yang ingin selalu menyentuh bunga di hatimu
karena manisnya bahagia yang selalu aku rasakan,” katanya sambil menyandarkan
kepalahnya di bahuku.
Debur
ombak yang berkejaran terlihat menjadikan pelangkap bahagia yang terasakan di
pantai berpasir putih ini. Duduk, begitulah kita merasakan menikmati alam
ciptaan Tuhan seraya kita tercipta menjadi satu seperti pasir dan ombak. Aku merangkul
Ranum karena angin tak ingin mendekap dingin, dan sesekali membelai rambut
indahnya karena pasir yang terhempas tak ingin mengotorinya.
“Dika,
teryata benar apa yang dikatakan orang. Kamu meninggalkanku hanya untuk wanita
ini” kata Putri yang tanpa terasa sudah berdiri di depan kita sambil menunjuk
Ranum.
“Putri, mengapa kamu mengganguku, bukannya kamu sudah puas
menyakiti dengan menduakan cintaku. Sekarang, lebih baik tinggalkan kita karena
kamu dan aku sudah tidak ada ikantan” kataku.
“Aku
akui salahku dan sekarang aku sadar. Dika sebenarnya aku masih mengharapkanmu,”
katanya.
“Itu
sudah berlalu dan menjadi masa lalu. Sekarang aku merasa bahagia dengan Ranum,” kataku sambil
merangkul Ranum.
“Dika asal kamu tahu saja, cewekmu itu adalah seorang pelacur.”
Sepontan saja aku menjadi marah, aku berdiri dan ingin
menamparnya tapi urung karena Ranum memegang tanganku. “Pergi dan cepat
tinggalkan kita, sebelum aku berbuat kasar,” kataku sambil mengusirnya.
“Aku pergi, aku pergi. Semoga kamu bahagia dengan seorang
pelacur” katanya dan setelah itu dia pergi. “Hei pelacur. Aku ucapkan selamat
karena kamu telah berhasil mengguna-guna Dika, tapi aku yakin cintamu itu
takkan awet dan Dika akan mencari aku,” tambahnya saat tak berapa jauh dia
meninggalkan kita.
Aku melihat Ranum tertunduk seolah menyembunyikan rasa sedih dan
tangisnya. “Ranum, sudahlah jangan kau tetaskan air matamu,” rayuku sambil
mengusap air matanya. “Lihatlah aku, tatap mataku. Semua ucapan adalah ucapku
yang harus kamu percayai.”
“Benar apa yang dikatakan putri, takdirku adalah untuk dihina dan
aku harus menjalani dengan tuduhan atas orang yang telah menganggap rendah
diriku,” ucapnya.
“Takdir? Terkadang takdir adalah pilihan dan pilihan terakhir
adalah takdir, tapi bukannya takdir bisa lebih memihak kepada kita jika kita
berusaha merubahnya. Ranum, Tuhan itu maha pengampun dan akan mengampuni setiap
ummat-Nya bila ia berusaha untuk lebih baik dan meninggalkan kesalahnnya. Aku
akan tetap ada untukmu karena aku tak ingin orang menghinamu karena masalalumu,
aku punya rasa kasihan dan untuk itu adalah cinta yang aku tunjukkan untuk
melindungimu.”
“Dika,
aku mengerti semua itu. Aku yakin cintamu sekarang hanyalah karena kasihan dan
aku tidak mau dikasihani. Dika, cobalah berfikir apa jadinya bila aku menjadi
masa depanmu. Aku tak pantas buat seorang cowok terpelajar sepertimu”
“Dengarkan aku, aku mencintaimu karena aku butuh. Aku butuh kamu untuk masa depanku karena mimpi-mimpiku selalu menyebut
namamu. Ranum, aku tak ingin menyebut malam tanpamu mengatakannya dan aku tak
ingin menyebut pagi tanpa kamu yang membangunkannya.”
“Aku
tak mungkin menyebutkan malam untukmu. Aku sekarang sadar siapa diriku ini”
katanya dan setelah itu dia hanya menundukkan kepla menyembunyikan tangisnya.
“Dika, aku hanya seorang pelacur.”
“Ranum,
ikut aku,” aku menarik tangannya dan membawahya pada keramain orang yang
menikmati keindahan pantai. “Hai semuanya, maaf sebelumnya. Aku hanya ingin
kalian menjadi saksi” teriakku dan sesaat itu bayak orang yang beralih
perhatian pada kita.
“Salahkah
aku bila mencintai dengan ketulusan dan kesetian. Aku butuh cintamu dan tanpa
syarat untuk memilikimu. Ranum, apakah kamu bersedia menjadi pendampingku
dengan ikatan halal dan bersedia menjadi istriku?” kataku sambil berlutut dan
memengangi tangannya dan sontan saja orang-orang berkata “Terima, terima,
terima.”
Sejenak setelah itu keadaan menjadi diam. Ranum menarik tanganku
dan memintaku untuk berdiri dan setelah itu dia memelukku. “Aku menerima,
karena aku juga butuh kamu.” Tepuk tangan pun terdengar dan tetapi aku tanpa
hirau terus saja memeluknya karena bahagia yang tak terkira.
“Kupu-kupuku
aku butuh kamu,” kataku setelah melepaskan pelukan dan menatap wajahnya.
“Kupu-kupumu juga butuh bunga cinta dari hatimu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar