SERPIHAN TANGIS PENANTIAN
Malam
yang terlarut terus saja merajai dan aku hanya memandangi bintang-bintang dari
balik jendela hingga tak terhitung bintang yang terlewat. Tapi hinaan angin
ingin saja menghempaskan dan tegur dari sapa nyawa lain yang menggoda, karena
enam kali pagi berganti dan sampai detik ini tak ada tegur untuk sekedar
menyapa. Jiwa ini hanya merajut serpihan cemburu dari cinta yang tak tersapa,
yang tak bisa menghindar karena sepi menelusuk perih, begitulah yang terjadi
hingga tak mampu untuk sekedar beranjak meninggalkan tangis. Jiwa pun harus
mendengar hujatan kutipan jerit dari hati yang menuntut untuk ada sapa.
Lemah
itulah aku yang tak kuasa untuk sekedar mempersalahkan detik berputar
melarutkan dan semakin larut malam ini. Dalam sepi aku bertahan untuk mencoba teguh walaupun
tangis tanpa bendung. Disini hanyalahdiary tempatku
mengadu tentang hasutan menyeruak dari nyawa yang mencoba
meruntuhkan teguhku.
Nyawa
itu adalah Ande. Jemarinya ingin menghapus tangis seperti
dulu dia pernah di halalkan untuk menghapus setiap tangisku. Tapi itu tanpa
laku lagi kerena aku terikat janji cinta pada Rendi yang ingin menegaskan lagi
cintanya pada pagi ketujuh, seperti janjinya.
Tanpa
sadar malam yang berlarut hingga tinggal sepertiga malam menuju pagi. Menyucikan diri dan menghadapNya dalam ibadah malam dan berserah dengan
mengangkat kedua tangan ini. “Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, ampunilah segala
dosa-dosa dan khilafku. Engkau Yang Maha Pemurah, limpahkanlah rizqi yang halal
bagiku. Engkau Maha Penyayang, limpahkanlah semua kasih sayang hingga aku
termasuk dari golongan orang-orang yang mendapat kasih sayangMu berupa surga
kelak di akhirat. Tuhanku, aku tahu Engkau menyayangi semua mahkluk di bumi
ciptaanMu, sayangilah Rendi dan jagalah raganya karena aku masih berfikiran
positf tentang keadaannya walaupun tanpa kabar. Pagi nanti adalah pagi ketujuh
dari janjinya dan izinkanlah kami bertemu dan menjadi sejarah terindah bagi
kami yang saling mencintai dan biarkanlah kami mejalani hari-hari indah dengan
ridhoMu. Tuhanku tempat meminta, kabulkanlah panjatan do’a hambamu ini. Amin.“
“Rani,
bangun uda pagi,” terdengar ketok pintu adalah ibu membangunkanku dan tersadar
bahwa aku tertidur di sajadah ini.
“Ya
Bu,” jawaku.
“Cepetan
keluar, ada tamu. Katanya ingin bertemu kamu,” kata ibu.
Anggapanku
yang datang adalah Rendi, karena ini adalah pagi ketujuh untuk janjinya. Aku
langsung keluar dan berlari ke depan pintu. “Rendi,” kataku sambil membuka pintu.
Aku terbengung sesaat karena yang datang adalah Andre. “Kamu Dre, silahkan
masuk.”
“Sudahlah
diluar saja, di terasmu enak untuk lihat pemandangan dan merasakan sejuknya
udara pagi,” jawabnya.
Agukan
kepala pertandakan mengikuti maunya, kitapun duduk di teras. Tangis tak
tertahan tanpa permisi dan seolah tak dapat dibohongi akan keinginan kehadiran
Rendi seperti janji yang selalu kunantikan.
“Rani,
aku tahu kamu menangis. Aku merasa ibah, ingin rasanya untuk menghapus air
matamu dengan tanganku dan bahkan aku ingin halalmu mengizinkan aku untuk
menghiburmu sehingga tak aku temui lagi sedih yang merusak paras cantikmu” kata
Andre seraya merayu.
“Sudahlah
Dre, aku tak apa. lihat aku sudah tersenyum,” jawabku setelah menghapus air
mata.
“Kamu
seharusnya sadar, enam hari tanpa kabar dan pagi ini sudah berlarut
ingin berganti siang tapi tak tampak batang hidungnya. Apa yang masih kamu
harapkan?. Rani, aku masih mencintaimu seperti dulu dan bahkan lebih. Aku
akan berusahan lebih baik dari Rendi,” ungkapnya
“Cukup
Dre. Cukup” Bentakku. “Itu dulu. Sekarang sudah berbeda aku terikat janji dan
keyakinan Rendi akan menemuiku hari ini, lebih baik kamu pulang saja sebelum
bertambah masah,” kataku.
Aku
terkejut melihat ambulan berhenti di depan pintu gerbang. Terlihat seseorang
dengan dipapah dua perawat menaiki kursi roda dengan balutan perban dikepala
dan lilitan selang infus di tangannya di dorong mendekatiku. “Rani
ini aku. Aku datang untuk mengatakan bahwa pagi ketujuh masih berlaku untukku.”
Tapa
kata, airmata terlewat seolah menggambarkan rasa senang berkecamuk dalam sedih
melihat keadaannya, aku pun berlutut dihadapannya dan memegang tangannya.
“Rendi, apa yang terjadi denganmu,”
“Sudahlah
jangan tanya kenapa tak penting bagimu, yang terpenting aku sudah menepati
janjiku. Aku yakin, tanpaku kamu merasa bahagiakankan?. Dia pasti yang
membahagiakanmu. Bagiku cukup melihat semua ini, semoga kamu bisa bahagia
dengannya,” katanya sambil melihat Andre dan menunjukan rasa cemburu dengan apa
yang ia lihat.
“Tapi. Dia,” jawabku.
“Mas, Aku hanya mengibur tangisnya agar dia
tersenyum,” kata Andre seolah menunjukkan simpatinya padaku.
“Andre,
aku mohon jangan ganggu aku lagi,” kataku sambil menangis.
“Cukuplah
semua. Kedatanganku ke sini hanya ingin membuktikan janjiku. Tapi sudahlah, aku
harus pergi tak ingin mengganggu kalian,” kata Rendi sambil meminta pada
perawat untuk mendorong kursi rodanya menuju ambulan.
“Rendi,
maafkan aku,” kataku, tapi Rendi tak peduli. Memohonpun tak didengar seolah
tanpa pedulikan aku lagi dan hanya tangis yang terlihat dari raut sedihnya. Aku
pun mengejarnya dan mencoba untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi
sebenarnya.
“Mbak,
dia kecelakaan mobil dengan keluarganya enam hari yang lalu, dia dan bapaknya
selamat sedangkan ibunya meninggal. Diapun baru sadar kemaren malam, dia nekat
untuk diantarkan menemuimu karena dia bilang tak ingin mengingkari janji dan
untuk cintanya,” kata perawat.
“Rendi,
dengarkan aku. Aku dan Andre hanya sebatas teman dan tak lebih dari itu. Dia
hanya menghiburku saat aku sedih karena tak ada kabar darimu,” kataku sambil
memohon kepada Rendi.
“Biarkan
aku yang menjelaskan semuanya,” kata ibu yang menghampiri Rendi. “Perlu kamu
ketahui, Rani masih setia kepadamu walaupun ada cowok yang menghasut dan
menggodanya termasuk Andre. Kalau kamu tak percaya baca diary ini.”
Dia
pun membacanya, membolak balik halaman demi halaman. “Rani, maafkan aku. Aku
telah salah menilaimu. Peluklah aku.”
Bahagiapun
menyeruak, ingin saja memeluk tapi aku masih melihat ibu. Anggukan kepala
mengisyaratkan ia dari ibu untukku memeluknya. “Maafkan aku juga. Tapi
berjanjilah untuk tak meninggalkan aku lagi.”
“Sudahlah,
tak pantas kau menangis. Bagiku kamu adalah satu-satunya wanita yang tak kan tergantikan. Aku akan pindah kerumah
sakit terdekat di kota ini agar kamu bisa menjagaku dan kita tetap terus
bersama karenaaku ingin kita bahagia saat ini hingga masa
depan kita nanti,” tegasnya menyakinkanku.
Aku hanya ingin menulis diary, inilah hari terindah
tanpa kira dan banding bahkan tanpa umpama. Serpihan tangis yang berlalu
menjadi serpihan bahagia bersamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar