PENANTIAN DAN PAGI KE TUJUH
Matahari yang berarak menemui jingga dan menutup hari. Terlihat,
terhitung satu demi satu bintang bersinar menghias langit yang memudar
menunjukkan malam untuk berlanjut. Angin berhembus menyertakan dingin seraya
ingin segera mendekap semua yang menyebut dirinya adalah makhluk hidup.
Diantara itu, aku yang tak mampu menolak sekedar berpaling.
Bintang seolah berjalan beriringaan ingin menemui barat, menuntunku menjejakkan
kaki sekedar membuag rasa resah yang tak menentu. Arah itu adalah dermaga untuk
akhir jengkal menggukur jalanan.
Menikmati keindahan alam raya dari luas lagit yang
terpandangi. Tertatap bulan dintara bintang walau tak purnama melukis tatapan
tanpa atur. Tapi, resah dari perasaan masih menyirat dalam ingatan hingga
gundapun sering memuncak membuyar semu dari keindahan.
“Tuhan, pantaskah aku untuk dipersalahkan dalam cinta bila
menginginkan Rendi pemilik hati ini. Perasaan ini tak mampu sekedar bersandar
seperti kapal yang aku pandangi di tepi dermaga ini. Entahlah apa yang terjadi
dengan lautan asmaraku, kadang berombak tanpa angin hingga amarah tercurhat.
Apakah aku harus mendayung perahu diterjangan ombak tanpa arah
hingga malam terlewat dan pagi adalah di pulaunya? Tuhan, tunjukkan arah dan
keadilan bila itu kehendak, untuk merasakan kebahagian dari cinta yang teranugrahkan,”
teriakku seraya mencurhatkan perasaan.
“Hei, berisik banget,” kata orang di perahu yang lagi mancing.
Aku yang menganggukkan kepala dan menyadarinya. Sesaat itu
terasakan pantulan cahaya bulan menyentuhkan kening seolah ingin menghapuskan
air mata yang tanpa sadar melewati kening. Dalam lama termenung, dalam diam
terhayal, ingin saja meloncat tapi itu urung karena ingat dosa yang tak
tertanggung nantinya.
“Rani,
pulang udah larut malam,” ibu yang baru datang menarik tangan.
Tanpa
kata hanya mengikuti permintaan ibu, beranjak meninggalkan dermaga yang tak
menghibur karena dermaga hanya membisu, tanpa ada jawab dari resah rasa yang
terasah.
Teman tanpa sapa adalah bantal guling setia menemani renungan
melewati pergantian detik memutar waktu. Mencurahkan semua pada diary karena
perasaan mengharuskan tercurhat di malam ini.
“Rendi, begitu aku selalu memanggil mengingatmu. Aku sebut diri
adalah keindahan yang Tuhan ciptakan dan berharap kamulah pemilik raga dari
keindahan. Malam yang selalu terlewat seperti malam ini aku menunggu pagi untuk
bekukan perasaan ini bila embun menyapanya, tapi itu kiranya tak mampu karena
matahari selalu berarak siang dan mencairkannya. Aku dalam ketidak mampuan
untuk menyalahi kodrat seorang wanita, tak ingin melukis sejarah bila aku
menyatakan terlebih dahulu. Aku inginkan kamu tahu semua ini dan pernyataan
rasa darimu yang aku harapkan,” tulisku dalam diary diantara malam yang ingin
melelapkan dan angin santun seolah menina bobokkan.
Terdengar gertak hujan menghantam genteng, menyadarkan aku dari
tidur dan segera tersaji nyatanya dunia. Jam berdenting menunjukkan angka lima
pertanda pagi akan segera menyapa, tapi gelap masih menghukumnya karena hujan
mendahului. Aku hanya berbaring dan pasrah karena embun tak tertemui untuk sesaat
membekukan perasaan hingga adalah bayangannya selalu ada seolah menemani
menunggu redah.
Detik yang berlalu berganti angka, sinar matahari mulai nampak
menembus dinding, pertandakan hujan mulai terlewat dan matahari tanpa sadar
sudah meninggalkan timur.
“Rani, bangun,” teriak ibu dan sesaat itu aku bangkit dari
berbaring.
“Iya Bu,” jawabku.
“ Rani, ibu temukan surat terbungkus plastik di pintu gerbang dan
saya kira ini untukmu,” kata ibu.
“Rani, tadi malam aku mendengar curhatmu pada alam, karena perahu
yang kamu lihat didepanmu itu adalah aku dan orang yang menegurmu adalah orang
tuaku. Aku hanya mau bilang Kalaupun jujur kau persilahkan, aku mencintaimu
dengan ketulusan. Maafkan aku tak bisa menunggu sampai pintu gerbangmu terbuka,
aku harus pergi ikut keluargaku ke luar kota karena bapaku berpindah tugas.
Rendi,” tulisnya dalam kertas.
Bergegas saja mengambil motor dan segera menemui Rendi
dirumahnya. Perasaan senang akan ungkapan cinta yang selama ini diharapkan dan
rasa gelisa juga tak bisa dipungkiri karena secepat itu Rendi akan pergi dari
kota ini.
“Rendi,”
aku memanggil dan menghampirinya di mobil.
“Rani,
ngapain kesini?” Katanya sambil turun dari mobil yang sudah siap berangkat.
“Aku juga mencintaimu dengan ketulusan. Jangan pergi karena aku
tak ingin kehilanganmu,” tegasku sambil memeluknya.
“Rani, dengarkan aku. Aku bahagia saat ini, karena perasaan cinta
yang lama terpendam telah berbalas,” katanya.
“Tapi,” kataku diantara tangis.
“Rani, aku tak akan meninggalkanmu, aku tetap disini menemanimu
dan tinggal bersama nenek. Tapi sekarang aku harus pergi, aku akan kembali
dalam tujuh pagi yang berganti.
“Aku pergi dulau ya, jaga dirimu. Kita
ngobrol aja di hp, tapi jangan dimatikan seperti tadi malam dan sampai
sekarang, yang ada aku kehujanan di depan rumahmu,” katanya sambil berpamitan
dan naik ke mobil.
Lambayan tangan dan senyum terlihat serta balas lambaian tangan
merelakannya pergi. Siang harus terjalani dan bila malam tiba
harus bersabar diri menunggu pagi ke tujuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar