PROKLAMER CINTA DI SURAMADU
Lirih angin pagi menyapa diterpaan berlalu,
menghembaskan embun mendekap tubuh. Adalah aku yang merasakan serasa perih
menyapa, perasaan yang terpendam terbawa dalam siksa. Rasa mengalung waktu
terus dan terus memaksa, seperti itulah kira besar cinta terus berpacu dalam
rasa cemburu yang membakar amarah. Itulah bila keinginan selalau memaksakan,
aku peruntukan indah pagi ini sebagai sumpah untuk tak ada bohong lagi.
Perasaan yang terpendam menjadi memuncak dan tak sanggup untuk
sekedar berpaling. Sesuatu yang menjadi damai hati adalah mengungkapkan pada
pemilik hati dari raga dan Putrilah yang dimaksudkan.
Aku dan Putri adalah teman sejak pertama kali masuk SMA, kini
kita sama-sama lulus. Tanpa disadarinya aku telah menaruk perhatian yang lebih
sejak kelas dua dan ingin dia menjadi bagian hidup dalam takdir yang akan
bercerita tentang keindahan. Akan tetapi, perasaan itu masih tersimpan karena
teringat perkataannya yang tak ingin berpacaran sebelum lulus SMA.
Pagi ini hari minggu, seperti biasa aku yang sering jalan-jalan
dengannya untuk menikmati hari libur. Aku menjemput putri dirumahnya dan
mengajaknya untuk keliling kota dengan naik motor. Kesempatan ini aku
pergunakan untuk membuktikan sumpahku pada pagi, mengungkap perasaan.
“Roy, berhenti disana ya. Beli bakso, aku belum sarapan,” Putri
menunjuk warung bakso yang berada di pinggir taman kota.
Aku yang memesan bakso dan putri menunggu di tengah taman kota.
Sambil makan kita menikmati keindahan taman dan hilir mudik orang berjalan
santai menkmati hari libur.
“Put, Aku ingin ngomong sesuatu sama kamu, tapi akunya malu,”
kataku.
“Ngomong apaan Roy,” dia memaksaku.
“Aku ingin kuliah satu kampus denganmu” kataku yang berpura
maksud.
“Oh itu, tak masalah. Itu juga menjadi inginku, karena bersamamu
aku merasa nyaman dan tenang,” katanya.
Perasaan yang tak mampu dibohongi seolah menjadi bumerang dan
maluku pada pagi jikala tak mengkukapkannya. Aku yang menggaggp ini adalah
kesempatan untuk sebisa mungkin memberanikan diri mengungkapkannya.
“Coba lihat disana, dua merpati yang akur saling bercanda seolah
hanya mereka miliki keindahan taman. Put, Bagaimana kalo aku ingin seperti
merpati?” tanyaku sambil menunjuk merpati putih.
“Itu bagus, tapi
apa iya kamu rela menjadi merpati,” jawabnya sambil tertawa.
“Put, I
like you and I love
you,”
aku memberanikan menyatakan tentang perasaan dengan memengangi tangannya.
Putri hanya terdiam tanpa sapa, seolah dia tak percaya akan
kata-kataku. Saat itupun aku mengajaknya untuk naik ke motor.
“Mas, bayar dulu baksonya,” teriak penjual bakso.
“Maaf Pak lupa,”
jawabku sambil menghampiri dan membayarnya.
Akupun memacu kendaraan untuk secepat mungkin sampai di Suramadu.
Diam dan tanpa kata mengiring perjalanan. Motor aku berhentikan tepat di
tengh-tengah jembatan dan melintang di tengah jalan. Sontan saja motor dibelakangnya
berhenti dan sesaat itu pun keadaan menjadi macet.
“Para pengendara yang baik hati, maafkan saya dan minta waktunya
sebentar. Saya hanya ingin mengungkapkan cinta dan kalian tuk bisa jadi
saksinya” teriakku untuk menenagkan pengendara yang membunyikan klakson
motornya.
“Ayo cepat, tunggu apa lagi,” teriak pengendara motor.
“Putri, dengarkan. Begitu banyak ingin adalah itu yang aku temui,
seperti mimpi inginkan terjadi dan tak ingin dipersalahkan rasa ini, seharusnya
untuk dipahami karena hidup ini untukmu dan itulah keinginan hati. Tatap mata
ini dan lihatlah ketulusan, percayalah dan tak mungkin cinta aku purakan, satu
cinta yang aku pertaruhkan tanpa ragu dan tanpa rapuh. Aku sudah lama memendam
perasaan ini dan sekarang aku pinta cintamu untukku berlabuh,” teriakku untuk
menyakinkan dan memohon cintanya.
“Sudahlah Roy. Aku mohon berhenti,” pintanya.
“Aku, semua pengendara dan jembatan Suramadu ini biarlah menjadi
saksi. Aku ingin satu kata darimu, terima atu tidak,” paksaku padanya.
Sontan saja para pengendara motor seakan tanpa dipandu mengatakan
“Terima, terima ...”
“Aku mencintaimu, aku terima Roy. Aku juga telah lama
mengharapkan ini,” katanya sambil menghampiriku dan memelukku.
Tepuk tangan serentak dari pengendara motor dan setelah itu
mereka melanjutkan perjalanan karena aku telah meminggirkan motorku. Tanpa
diduga pengendara yang paling belakang adalah polisi.
“Selamat Pagi, selamat untuk anda karena mendapatkan cintanya.
Tapi anda telah melanggar peraturan, dilarang berhenti di jembatan dan anda
telah membuat kemacetan. Keluarkan surat-suratnya” katanya.
“Aku mengerti Pak,” jawabku tapi aku tak bisa menunjukkan karena
lupa membawanya.
“Sekarang anda ditilang dan ikut ke pos” pintanya.
Kita hanya tersenyum dan pasrah mengiyakannya, berdua naik motor
dengan pelukan erat karena bahagia tak terkira yang terasa seolah tanpa hirau
polisi yang mengiring dibelakang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar