DIARY TERAKHIR
Matahari mulai
menampakkan sinar seraya menyapa, seperti pagi mengantarkan raut indah dari
mega langit berawan terpandangi. Rumput serasa enggan bergoyang karena angin
masih tersapa pepohonan yang ingin melepaskan dari embun mendekapnya.
Langkah menyusuri
jalanan yang menyisahkan hempasan embun serasa dingin dari setiap jengkal
langkah menyambangi disanalah pantai. Hilir mudik orang beriring menikmati hari
libur dan bersantai merasakan keindahan pantai seperti Tuhan lukiskan dengan
segalah keunikannya.
Aku
ada disini menikmati untuk sesaat melepas rindu yang hanya angin mengertinya.
Indah begitulah tertatap keindahan alam yang terlukis pada pantai dan seolah
menggambarkan perasaan karena dengannya merasakan keindahan seperti Indah aku
sebut namanya.
Rasa ini adalah
cinta, ada dalam hati untuk suatu saat menginginkan dia tahu akan rasa yang tak
berpura pada keyataan. Tetapi aku tak bisa mengungkapkan, hanya menjadikan
hampa terasa disetiap sudut rindu yang membentuk cemburu bila merasa tak beta
tanpanya. Takut dan tak ingin pertemanan sejak kecil menjadi hancur bila ia
tahu akan ketulusan rasa yang selalu bertakbir dalam setiap teriak hati ini.
“Hei, kenapa
bengong,” sapa temanku.
“Hei, mana Indah?”
tanyaku.
“Dia nyusul
belakangan, masih mandi,” sahutnya.
Aku yang berharap
dia datang dan menemui seperti biasa kita selalu bercakap dan bercanda bersama
selayaknya yang terjadi. Harapan itu jugalah yang sebenarnya menjadikan pelebur
rindu untuk sekedar berpura akan perasaan sesungguhnya. Terus menunggunya, dari
itu aku hanya bisa melihat ombak berkejaran tersapa angin dan pasir
berterbangan seolah menyapaku untuk tersadar matahari telah beranjak jauh
meninggalkan timur.
“Ada apa disana?” tanyaku pada orang yang baru datang.
“Ada kecelakaan, seorang gadis ditabrak motor di pertigaan jalan,” jawabnya.
Sontan saja aku
beranjak dan ingin tahu kejadian yang sebenarnya. Sesampainya hanya cerita orang yang bercerita betapa luka yang dialaminya
sangat parah dan korbannya sudah di bawah ke rumah sakit.
“Ini tas milik korban,” teriak seseorang.
Aku lihat adalah tas
milik Indah. Sesaat itupun dengan persaan sedih dan
khawatir aku menyusulnya ke rumah sakit.
“Om, dimana Indah,” tanyaku pada orang tuanya.
“Indah luka parah di kepalanya dan kata dokter harus di operasi,” jawabnya.
Doapun terpanjat dari setiap tetes air mata seraya menyatakan sedih
mengiring sambil menunggu ucap dokter yang mengatakan dia akan pulih
seperti biasanya. Sesaat itu aku membuka tasnya karena hp berbunyi dan juga
memberanikan mengambil diarynya. Aku yang membacanya hanya bisa terkejut dan
tersenyum, semua adalah tentangku.
“Indah, kau sebut nama adalahku ingin keindahannya dan semua biarlah
terjadi untukku mengabdi pada nyata hingga akupun ingin bersupah padah teguh
untuk tak putus asa mencari celah, darimu aku ingin temukan rasa untukku
merasakan. Selayaknya nafas ini sepertinya nafasmu yang kau titipkan hingga
menguatkan hati untuk milikimu karena jiwa tak untuk tertinggalkan. Bila
parasmu terpandangi serasa untuk selalu bersama karena hati dan jiwa tak ingin
kehilangan, hanya dirimu bisa kembalikan lagi senyum dari aku yang tak betah.
Indah, adalah aku yang seharusnya kau sebut keindahan kerana takkan berhenti
untuk mencintai yang seharusnya tertakdir sebelum Tuhan mengatakan ini
berakhir. Aku ada untuk mencintaimu,” katanya dalam tulisan diary terakhirnya.
Senyum merasakan apa yang seharusnya terjadi dan pengakuannya membuat aku
ingin memeluknya. Tapi, aku hanya bisa pegangi tangannya di kamar rawat yang
baru sajah dia dipindahkan.
Diapun tersadar dan apa yang ditakutkan seperti ucap dokter yang
menanganinya benar-benar terjadi. Penggumpalan darah di otaknya membuat saraf
matanya tergaggu dan mengakibatkan dia tidak bisa melihat.
Tangis dan amarahnya memuncak, dia berteriak dan mungkin menyesali yang
telah terjadi, orang tuanya tak mampu menenangkan dan hanya tangisnya yang
mengundang tangis orang tuanya.
“Ma’af Om, biar saya
yang akan menghiburnya,” ucapku.
“Ok dan biar saya
keluar,” jawabnya.
“Indah,” sapaku.
“Kamu, nagapin ada
disini dan mau apa, apa hanya ingin menghina? lebih baik pergi dan biarlah
semua ini terjadi dan aku akan menjalaninya sendiri,” sahutnya.
“Aku sudah baca
semua diarymu dan apa yang menjadikan harapanmu adalah juga harapanku untuk
bisa mencintai dan milikimu.”
“Itu sudah berlalu,
sekarang berbeda dan aku kira takkan ada orang yang mencintaiku dengan seperti
ini,” ucapnya seperti sesal dari tangisnya.
“Kamu tunjukkan
keindahan sesaat itu tanpa sadar kau ajarkan cinta dan ajarkan luka karena aku
tak merasa betah bila tanpamu. Cinta ini telah ada tanpa syarat dan hanya
kepadamu ingin menghuni ketulusan dari setiap waktumu, seperti ketulusan hati
mencintaimu untuk miliki dan menjagamu sampai akhir detik berhenti memutar
waktu.”
“Tapi.”
“Biarkan mata ini
mengatakan bahwa keindahan itu ada, biarkan tangan ini menuntunmu setiap
langkah bersama kakiku menjalani hari mengarak matahari, bila itu akan
merasakan malam yang selalu memihak pada kita.”
Memeluknya untuk
membuktikan bahwasanya jiwa ini mencintai setulus hati untuk mendampingi dan
bercerita tentang kita dan cinta di sisa waktu hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar